Sebuah mini series segar dan menghibur berhembus dari arah negeri gurun pasir; Arab Saudi. Crashing Eid adalah drama keluarga yang mengambil latar kota Jeddah KSA, tayang di Netflix 2023 lalu dalam empat babak dengan durasi pendek untuk ukuran drama yang biasa saya tonton dari Asia.
Hal menarik pertama bagi saya adalah dari sisi gambar yang sangat jernih dan cerah ditangkap mata. Disclaimer; sayangnya, kota Jeddah sebagai latar dari kisah ini kurang dieksplorasi lanskapnya. Rasa penasaran saya muncul lantaran imajinasi akan sebuah kota, dus ibukota negara dengan reputasi internasional sebagai wilayah "suci", "relijius", terlampau kuat terbangun. Apalagi kesan yang terpantul oleh publik adalah sebagai negara dengan otoritas monarki yang absolut, hingga gerak maju dan dinamika modernitas sebuah negara tidak pernah terpublikasi secara luas. Publik internasional seakan terbawa oleh kesan sebuah peradaban yang cenderung konservatif. Tidak memiliki sentuhan dengan peradaban luar. Drama ini jadi terkesan mirip "opera sabun" atau "sitkom", dengan mayoritas adegan dilakukan di dalam ruangan.
Crashing Eid menjadi drama Arab Saudi pertama yang saya tonton. Rasanya cukup banyak saya ketinggalan tentang hal satu ini. Saya nyaris tak pernah atau hanya beberapa kali saja menonton sinema dari Arab Saudi, kendati negeri-negeri di kawasan Arab lain dus Timur Tengah umpamanya, sebenarnya tidak sedikit yang menyajikan tayangan bagus dan menarik. Arab Saudi bagi saya menjadi perkecualian, lebih disebabkan kurangnya info, dibandingkan dengan negeri kawasan lain, seperti Iran dan Turki. Mungkin KSA memang kalah pamor dalam hal produksi budaya seperti film atau drama. Dalam bayangan saya selama ini, KSA adalah negara dengan ruang budaya yang terbatas dan ruang berkarya yang dibatasi, hal yang begitu kuat dari prasangka saya bahwa ini tentu berkaitan dengan sisi praktik beragama dus budaya yang sangat kental religinya (jika tak boleh dikatakan kolot) di sana.
Mini series ini mengisahkan tentang jalan hidup Razan, tokoh utama, seorang perempuan independen berdarah Arab Saudi yang telah lama menetap di London, Inggris. Dunia akademik yang ditempuhnya dapat dijadikan sebagai alasan di balik kemandiriannya sebagai seorang perempuan. Ia seorang janda muda dengan anak satu, perempuan yang beranjak remaja usia 14 tahun. Sebagai single mother yang hidup jauh dari keluarga dan negaranya, Razan tipikal perempuan mandiri yang terbilang sukses, meski kehidupannya di Britania tersebut tidak disorot sama sekali, selain hanya tempelan di awal adegan drama semata, kala ia mengajukan lamaran kepada kekasihnya--Sameer (seorang keturunan India-Pakistan, namun telah lama menetap di London sekaligus sebagai warga negara Inggris)-- di dalam bioskop. Razan merupakan perempuan Arab Saudi yang usai perceraiannya di pernikahan terdahulu dengan sepupunya, lantas pindah menetap di Inggris. Ia membawa serta anak tunggalnya, Lamar.
Kakak Razan, Sofyan, juga tengah menghadapi masalah pribadi terkait rumah tangganya yang di ujung tanduk, usai bercerai dengan istrinya dan berkonflik terkait hak asuh anak tunggal mereka. Dalam lingkup KSA, rupanya pihak yang menjadi mediator sebelum mengajukan kepada Pengadilan Agama terkait perceraian beserta hak asuh anak, mesti melalui situasi negosiasi yang alot pula meski kesan awalnya pihak mediator tersebut seakan memberikan napas segar bagi pihak yang pasutri yang tengah berkonflik. Ironisnya, istri Sofyan yang tengah membawa anak tunggal mereka, terus saja melakukan hal kontraproduktif bagi Sofyan. Istrinya itu ketahuan atau diceritakan dalam drama itu selalu melakukan penghasutan secara halus kepada anak mereka, manipulatif dengan tuduhan bahwa Sofyan melakukan tindak kekerasan hingga menyebabkan anak mereka ketakutan ketika bertemu. Sang istri itu juga dikisahkan seperti melakukan 'pemerasan' secara halus, bahwa Sofyan boleh bertemu dengan anaknya dengan syarat harus membelikan lebih dulu tas perempuan berharga mewah.
Tampilan perempuan-perempuan tanpa jilbab
Saat awal, sempat mengernyit sendiri perihal para tokoh dalam kisah drama ini yang ditampilkan tidak memakai jilbab atau penutup kepala, bahkan cara berbusana layaknya masyarakat umum di dunia, hanya "tidak mengumbar aurat" saja. Dari tokoh utama hingga penyokong, Lamar dan anak perempuannya, istri Sofyan, ditampilkan dengan tidak memakai jilbab, bahkan ketika berada di tempat publik. Bayangan saya atau mungkin bayangan banyak orang di Indonesia, para perempuan Arab Saudi pastilah dalam berbusana sehari-hari selalu menutup kepala dengan jilbab atau bentuk lain semacam, juga dalam memilih busana pastilah selalu ngrombyang ber-abaya. Ternyata terpatahkan di drama ini. Sebenarnya tidak sekali dua informasi yang beredar beberapa tahun silam, bahwa telah tampak bagaimana di publik, bahkan keluarga kerajaan, para putri, para permaisuri, justru tampil dengan berbusana 'terbuka'. Tapi bagaimana dengan warga biasa? Sekalipun di publik tetap dipahami dan dilihat oleh warga dunia dengan busana tertutup, tapi dalam drama ini justru diperlihatkan hal sebaliknya. Apakah ini sebuah anomali atau justru ini adalah fakta sehari-hari yang tidak diketahui oleh dunia luar?
Penampilan yang tidak memakai penutup kepala di publik tersebut tidak berbanding terbalik dengan kesalehan individu. Sutradara menampilkan karakter individu dari masing-masing tokoh, meski berbusana bebas, tapi dikisahkan bahwa secara syariat mereka tetap melakukannya seperti melaksanakan ibadah puasa dan menghormati bulan puasa dengan tradisi berbuka puasa bersama atau juga membagi-bagikan makanan untuk berbuka puasa.
Ada satu hal yang kontras sebenarnya, namun masih bisa ditangkap maksudnya. Bahwa setelah Sameer berhasil 'diterima' oleh keluarga Razan di dalam rumah dengan mengajaknya berbuka puasa bersama, namun tempat duduk mereka dipisahkan. Laki-laki dengan sesama laki-laki, perempuan dengan sesama perempuan.
Alur
Secara keseluruhan, alur bergerak maju dan sangat cepat, seperti terburu-buru termasuk di dalam membangun emosi para tokoh. Keluarga Razan, terutama sang ibu yang sejak awal melakukan penolakan hadirnya Sameer. Lebih disebabkan oleh penolakannya terhadap latar belakang Sameer yang dari Pakistan-India. Bagi ibu Razan, mereka dianggap berada di bawah strata sosial yang mesti diwaspadai. Sebuah watak khas rasisme yang rupanya dialami oleh orang Arab Saudi. Bahkan, rasisme sempit itu tidak berhasil dibobol oleh fakta bahwa Sameer adalah produk 'modernitas dan liberalisme' Britania Raya. Kosmopolitanisme yang dipunyai dan dibangun Sameer dalam karirnya sebagai jurnalis tidak menyurutkan bara api rasisme ibu Razan. Dari sinilah lika-liku konflik berawal.
Pada satu ketika, kedua orangtua Sameer 'dihadirkan' melalui sambungan video internet. Celakanya, suara-suara dari kedua orangtua Razan riuh menimpali sehingga membuat orangtua Sameer melakukan hal sama. Walhasil, orangtua kedua belah pihak sama-sama tidak menyetujui rencana pernikahan mereka. Jika di pihak Razan kuat rasialisme yang ditunjukkan terutama oleh ibunya, di pihak Sameer memiliki prasangka kuat akan konservatisme Arab Saudi yang lekat kepada warganya, selain itu karakter Razan sebagai produk modernitas feminisme dituduh memiliki sisi dominasi yang ditengarai akan merugikan Sameer, muncul dalam tuduhan sekilas tentang Sameer yang membuatkan teh untuk Razan.
Mendapati situasi konflik kedua orang tua masing-masing tersebut, baik Razan dan Sameer mengalami benang kusut sebuah hubungan. Meski Lamar, anak tunggal Razan ditunjukkan sebagai pihak yang mendukung pernuh kelanjutan hubungan tersebut, toh pasangan kekasih tersebut kehabisan akal. Razan mendadak punya inisiatif untuk melakukan pernikahan sendiri, bersama Sameer mendatangi penghulu/tokoh agama yang biasa menikahkan 'di bawah tangan'. Meski akhirnya gagal lantaran tidak ada wali dari pihak calon pengantin perempuan.
Ketegangan masing-masing tokoh
Konflik yang dialami oleh para tokoh di sini sejatinya tidak berbeda dengan konflik setiap rumah tangga di belahan dunia mana pun. Ada perceraian dengan menyisakan konflik "perebutan" hak pengasuhan anak. Ada percobaan perjodohan dengan itikad awal dari para orangtua. Hanya saja yang menarik dari drama ini adalah bagaimana Razan sebagai perempuan independen--dalam ukuran negaranya yang konservatif, mampu melakukan apa yang menjadi kehendak pribadinya tanpa dibatasi oleh kekuatan di luar dirinya. Razan mampu menunjukkan bagaimana ia punya suara, punya pendapat, lalu bagaimana ia mampu 'bermain cantik' atas kehendak pribadinya itu. Pertentangan paling keras memang ia dan ibunya, sutradara begitu apik menonjolkan konflik ibu dan anak perempuannya ini tanpa berlebihan, benar-benar sangat natural. Tak dapat ditengarai dengan pasti, apakah hubungan antara Razan dan ibunya ini berkaitan dengan di luar peran mereka berdua, di mana di dunia nyata mereka berdua adalah ibu dan anak kandung yang kebetulan sama-sama berprofesi sebagai aktris dan dipasangkan sebagai ibu dan anak pula di dalam drama.
Sosok Razan memang terlihat agak kurang all out dalam akting, dibanding ibunya. Namun, tetap saja mampu menunjukkan apiknya adegan konflik ini. Konservatisme di awal adegan yang masih dipegang sebagai nilai-nilai dari agama yang dianut oleh sang ibu, bersinggungan dengan nilai-nilai independen si anak perempuan.
