Kamis, 07 Juni 2012

Perempuan Bahu Laweyan



Siang lengang menghampar di beranda rumah Mak Minji. Tampak sesekali ia mondar-mandir keluar-masuk rumah. Sedikit resah ia menanti anak dan menantu laki-lakinya datang. Janda bertubuh subur dan berwajah keras mengekal itu kini tinggal sendirian. Putri semata wayangnya belum genap sebulan dipinang orang. Di tanah seberang, si menantu baru itu membawanya menanam hidup. Sebenarnya tidak sendirian betul perempuan itu tinggal. Dua-tiga kerabatnya hidup bertetangga dengannya. Di sepetak tanah warisan moyang mereka. Dirimbuni pepohon kelapa yang berjajar di kaki bukit. Di pinggir sebatang sungai yang membelah dua desa.
Sehari-hari pekerjaan perempuan itu membuat penganan kecil dan es lilin yang dititipkan di warung-warung. Jika pekerjaan usai, ia akan tidur sepuasnya. Barangkali, keseharian bergelut memasak dan mencicipi semua makanan dan tidur yang puas itulah yang membuat tubuhnya gembul. Di saat lain, ia akan menyigi pohon kelapanya yang berbuah lebat. Di sekujur tanah yang mengelilingi rumahnya, pohon kelapa dan pohon pisang Kepok merimbuni rumah desa peninggalan orang tuanya. Mak Minji akan memanggil penjual pisang atau penjual kelapa untuk membeli hasil kebunnya itu. Ia tak perlu bersusah-susah menjual sendiri ke pasar meski harganya jatuh bersebab ulah para tengkulak.
Tapi tidak dengan siang lengang ini. Mak Minji tampak sibuk. Bukan saja ia tidak tidur siang sepuasnya, tak pula ia memanggil tengkulak langganannya untuk menawar buah kelapa dan pisang yang telah masak. Mak Minji tampak sesibuk orang kebanyakan dalam persiapan helat. Ya, Mak Minji akan menikah. Tepatnya menikah lagi.
Bukan Mak Minji tak hendak berkabar kepada orang-orang. Tetapi berita pinangan yang diterimanya dari lelaki yang seorang pensiunan tentara itu telah lama menyeruak sampai ke pelosok. Mengharu-biru orang ramai di tegalan, sawah, hutan jati, pusat desa, dan tak luput para pejabat desa yang diam-diam menaruh perhatian padanya. Meski kata orang-orang badan Mak Minji kelewat subur, tapi tak mencuri kemudaan dan kecantikannya. Dalam usia yang cukup muda, 40 tahun dan sedang ayu-ayunya, perempuan itu telah menikah selama enam kali. Angka yang fantastis untuk ukuran orang-orang desanya. Lebih fantastis lagi, keenam suami Mak Minji itu berpisah dengannya bukan karena perceraian, melainkan karena meninggal dunia. Macam-macam penyebab kematian itu.
Suami pertama yang seorang petugas pemadam kebakaran, tewas saat bertugas. Suami kedua sekaligus satu-satunya suami yang sempat memberinya seorang anak, meninggal sesaat setelah terjatuh dari pohon kelapa, hendak mendaras air untuk dibuat gula merah. Suami ketiga mengalami nasib sama, jatuh dari pohon kelapa tapi tidak mati seketika, Mak Minji musti mengeluarkan biaya banyak untuk operasi tulang dan menunggui di rumah sakit ortopedi, nyaris dua bulan penuh sebelum akhirnya mati sia-sia. Suami keempat meninggal akibat penyakit gula. Suami kelima yang seorang sopir truk pengangkut kelapa, mati kecelakaan di jalur pantura H-3 lebaran, dan suami keenamnya meninggal lantaran sakit masuk angin mendadak.
Orang-orang kerap menyebutnya perempuan bahu laweyan. Perempuan yang setiap kali menikah, dipastikan suaminya akan meninggal. Dan, para lelaki berikut para perangkat desa yang terpikat sekaligus tak pernah terikat padanya, tak pernah berani untuk berhubungan kelewat jauh dengan perempuan itu. Takut mati sia-sia. Anehnya, para istri di desa itu pun tak berani melabrak Mak Minji ketika suami mereka diam-diam merajut kedekatan dengannya. Beredar kabar bahwa Mak Minji memiliki kekuatan supranatural akibat status bahu laweyan yang disandangnya.

*          *          *

Beberapa kerabat tampak berdatangan. Beberapa langsung menuju dapur melakukan persiapan. Seolah paham dengan keadaan, tak perlu mempercakapkan lebih panjang perihal dengungan di mulut orang-orang, mereka bekerja cekatan menyiapkan hidangan sementara Mak Minji bersiap pergi ke toko bunga depan pasar kecamatan. Ada yang lupa dibelinya kemarin. Dan itu menjadikan suasana separo gaduh dalam pembicaraan orang-orang.
”Apa macam hendak ia beli bunga?” Ibu paruh baya yang sibuk memarut kelapa bertanya setengah berbisik. Yang diajak bicara menoleh ke segala arah. Memastikan si tuan rumah tak ada agar pembicaraan tak menuai bencana.
”Ah, mungkin bunga setaman. Apalagi kalau tidak untuk sesajian. Tahu sendiri ’kan? Minji tetap memikat ’kan karena pakai begituan ...” Jawab perempuan yang masih kerabat itu. Tangannya yang tengah mengupas bawang terlihat berhenti. Seolah menegaskan seriusnya ucapan.
”Ya, mungkin. Tapi bisa jadi dia memiliki lelaku tertentu seperti itu. Bukankah ia akan menikah? Biasanya ’kan begitu?” Seorang nenek yang sibuk menyobeki daun pisang untuk alas besek kenduri sambil mengunyah sirih, menimpali.
”Maksud Nenek, lelaku itu bertujuan agar suaminya kelak akan mati juga? Dengan begitu Mak Minji mendapatkan tumbal bagi pesugihan-nya?” Kali ini perempuan si pemarut kelapa tadi bertanya dengan berbisik.
Mak Minji memang dikenal kaya. Setidaknya dari materi yang dimilikinya. Kilauan aneka perhiasan yang dikenakan, serta perabot rumah yang bertekstur kekinian.
Menurut orang-orang, Mak Minji yang jarang bergaul itu juga terkenal sebagai orang yang tidak pemurah. Tak pernah ia bersedekah barang seribu perak. Kayu-kayu dari pelepah kelapa di pekarangan rumah yang tak jarang jatuh sia-sia, tak pernah diberikannya kepada para tetangga yang membutuhkan meski ia sendiri berkecukupan. Singkatnya, hampir tak ada yang pernah dibuat senang oleh janda cantik itu. Anehnya, orang-orang terlanjur percaya bahwa Mak Minji bukan orang sembarangan hingga mereka tak berani berurusan panjang. Pun ketika mereka dimintai bantuan untuk persiapan helat, hampir semua tetangga kiri-kanannya menyatakan sanggup.
*          *          *
Keesokan harinya, suasana sederhana namun meriah, tumpah meruah di kediaman pengantin.  Orang-orang larut dalam kesenangan berpesta. Akad nikah berlangsung lancar. Sepasang mempelai yang tak lagi muda itu tampak sumringah. Hiburan orkes ”organ tunggal” pun disuguhkan untuk menghibur tetamu. Biduan cantik melenggak-lenggok menyanyikan lagu dangdut populer. Tak lupa lagu-lagu Campursari kegemaran penduduk kampung.
Mak Minji menebar senyum sarat arti. Begitu pun hadirin dan kerabat. Mereka larut dalam suka cita. Seakan terlupa apa yang kerap mereka pergunjingkan akan pengantin perempuan. Riang suasana itu tak sampai selesai. Orang-orang dikagetkan oleh Gayatri, putri Mak Minji, yang jatuh pingsan tiba-tiba. Sontak alunan musik berhenti. Seluruh mata memusat ke sumber kejadian. Tubuh Gayatri dipapah masuk. Upacara sederhana itu disudahi sebelum waktunya. Dengungan terdengar di mulut orang-orang. Tampak tetamu satu per satu meninggalkan ruang.
Mak Minji menangis meraung-raung di samping tubuh Gayatri yang tak jua siuman. Suami barunya hanya terpaku. Sebentar-sebentar resah. Pun begitu dengan sang menantu. Dalam kamar itu mereka hanya berempat. Tangis Mak Minji barangsur-angsur reda. Tinggalkan sembab dan titik yang berkaca-kaca. Hingga malam Gayatri masih terdiam meski napasnya teratur. Saran dari keluarga dekat agar dipanggilkan mantri tak diiiyakan oleh Mak Minji. Dijawabnya pasti nanti siuman sendiri.
Hati Mak Minji berdebar. Di kamarnya harum bunga sedap malam menguar. Ini empat kali sudah Gayatri pingsan. Selalu di saat ia melangsungkan pernikahan. Batin pengantin baru itu ngilu. Kepalanya pening. Matanya sedikit berkunang-kunang. Mungkin karena keletihan yang panjang usai perhelatan dan kebingungan yang mencekam, Mak Minji menyusul Gayatri; pingsan!
Udara malam mengerudungi desa itu. Menelusupkan dingin yang sangat ke pori. Suasana alam sunyi. Hanya terdengar suara burung gagak di sudut desa, tak jauh dari hutan jati...

Kulonprogo, Agustus 2010


Keterangan cetak miring:
Bahu Laweyan: sebutan untuk orang yang setiap kali menikah, pasangannya meninggal
Lelaku: semacam tirakat untuk beroleh tujuan tertentu
Pesugihan: kemakmuran yang diperoleh yang ditengarai bukan dari hasil biasa
Sumringah: gembira teramat sangat





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar